dengarkan kisahku… (3-fin-)


Tahun berganti tahun…

Susah payah gadis itu merajut cita-citanya. Agustin tidak pernah memiliki uang jajan serta baju yang layak seperti teman-temannya. Semua itu diterimanya dengan rela, agar buku-buku sekolah dan biaya sekolahnya dapat terbayarkan. Usahanya didukung juga dengan usaha dan doa ibunya serta kakak-kakaknya. Mereka tidak memperdulikan perkataan pesimis ataupun cemoohan dari tetangga maupun saudara mereka.  Tetangga dan saudara mereka senantiasa berkomentar bahwa Agustin tidak akan bisa bersaing dengan kawan-kawannya jika ia masuk ke sekolah-sekolah favorit. Untunglah Agustin berhasil meletakkan pondasi bagi pendidikannya kedepan dengan memasuki salah satu SMP Negeri favorit di kotanya. Ketika SMP, dia termasuk anak yang cukup berprestasi, terbukti bahwa dia selalu masuk ke kelas unggulan. Ketika SMA pun dia berhasil masuk ke sekolah favorit. Setelah menamatkan sekolah SMA, dia memasuki sebuah perguruan tinggi negeri di kotanya. Sebenarnya dia bercita-cita untuk mendaftar ke perguruan tinggi diluar kota, tetapi orangtuanya khawatir tidak dapat membiayai biaya hidupnya di luar kota. Selama SMA sampai kuliah, dia tidak ingin terlalu merepotkan keluarganya dan mencari uang saku tambahan dengan menjadi guru les privat di daerah sekitar rumahnya.  Jika tidak ada uang saku tambahan, maka Agustin tidak akan bisa membeli kebutuhan-kebutuhan tambahan sekolahnya, karena uang sakunya sehari-hari hanya cukup untuk biaya transport. Untunglah semasa bersekolah sampai kuliah, dia bertemu dengan teman-teman yang baik. Pernah suatu saat ketika dia sudah berkuliah, dia sedang berada di kampus . Dia sedang menunggu jam perkuliahan berikutnya. Saat itu sudah melewati jam makan siang, sedangkan dia sudah tidak punya uang untuk membeli makanan. Uang yang dia punya hanya cukup untuk ongkos naik kendaraan umum untuk pulang nanti malam. Untunglah ada seorang temannya yang berbaik hati dan mau membelikannya makanan, mungkin temannya itu merasa kasihan kepada Agustin karena melihat dia lama memandangi kantin.  Biasanya ibunya membekalinya dengan satu atau dua bungkus roti sisir untuk mengganjal perutnya ketika dia lapar, tak lupa pula sebotol air minum.

Agustin menyelesaikan kuliahnya tepat waktu, dia lulus sarjana dengan nilai cumlaude dan sekarang bekerja pada sebuah perusahaan nasional di indonesia. Pencapaiannya cukup membuat tetangga-tetangga dan saudara-saudaranya tidak lagi mencemooh dan berbalik sikap menjadi sangat baik kepadanya dan keluarganya. Begitupun sikap ayahnya sendiri berangsur-angsur berubah. Kini ayahnya mengakui bahwa usaha keras bisa membuahkan hasil, tidak seperti pemikirannya selama ini yang hanya menjalani segala sesuatunya apa adanya.

Gadis kecil itu telah tumbuh dewasa, menjadi seorang perempuan yang masih mengusahakan menggenggam sisa cita-citanya. Dia merasa beruntung telah terlahir dalam keluarga yang tidak sebahagia teman-temannya, walaupun dahulu dia sering memimpikan dan berandai-andai untuk memiliki keluarga bahagia seperti mereka yang serba berkecukupan dan mendapatkan kasih sayang yang berlimpah. Bahkan dulu, terkadang dia bertanya kepada dirinya sendiri, mengapa Allah menakdirkannya lahir dalam keluarga yang seperti itu. Saat ini dia baru menyadari betapa berharganya semua yang telah dia miliki. orang bijak berkata, mungkin Tuhan menghadiahkan kita sebuah ke-tidak punya-an akan sesuatu agar kita menyadari betapa berharganya sesuatu itu ketika kita memilikinya.

Dia kini juga mengerti arti sebuah perjuangan dan pengorbanan. Bahwa memang Allah adalah seperti persangkaan hambaNya. HambaNya yang percaya akan kekuasaan dan pertolonganNya.

Setelah menjalani sebuah episode kecil dari kehidupannya, perempuan itu merasa ingin membahagiakan orang-orang yang disayanginya. Membalas atas semua pengorbanan mereka, terutama kepada ibunya yang tidak hanya berpeluh keringat tetapi juga berlinang air mata. Mengaca kepada kehidupan masa kecilnya, dia menginginkan anak-anaknya mendapatkan kasih sayang yang cukup dari dia dan suaminya. Mengusahakan agar anak-anaknya memiliki kehidupan yang layak, mendidik mereka dengan sebaik-baiknya, agar nantinya mereka menjadi seorang manusia yang bermanfaat.

Mungkin kisah hidupnya tidak sefantastis kisah hidup orang-orang yang telah dituliskan di novel-novel  terkenal, tetapi jika mengalami sendiri hal serupa akan lain lagi ceritanya. Membaca, mendengar cerita seseorang memang tidak sesulit seperti menjalaninya. Semoga kita bisa mengambil hikmah dari setiap kisah yang kita baca. Amin.

-fin-


2 thoughts on “dengarkan kisahku… (3-fin-)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s