dengarkan kisahku… (1)


Perempuan itu masih muda dan enerjik. Sifatnya yang ceria dan humoris membuatnya mudah untuk menjalin hubungan pertemanan. Dia baru memulai berkarir di sebuah bidang yang sama sekali baru bagi dirinya. Walau dia tidak begitu menyukai pekerjaannya, tetapi dia terlihat menikmati suasana di kantornya. Suasana kekeluargaan di sana membuat dia betah. Sekarang dia bisa mengatur kehidupannya dengan materi yang cukup walaupun tidak begitu berlebih, berbeda dari 20 tahun lebih kehidupannya dahulu.

Dulu dia dilahirkan di lingkungan keluarga menengah ke bawah. Bukan hanya keluarganya, tetapi juga keluarga paman-paman dan bibi-bibinya yang berada dikota tempat dia tinggal merupakan keluarga golongan menengah kebawah baik secara ekonomi maupun pendidikan. Ayahnya hanyalah seorang pegawai negeri sipil bergolongan rendah dan bergaji pas-pasan. Menurut cerita ibunya, jauh sebelum dia lahir, gaji ayahnya jauh lebih kecil daripada ketika dia lahir karena ayahnya hanya sebagai penjaga gudang (Alhamdulillah Allah masih memberi mereka jalan rejeki). Itupun sebagian besar gajinya biasanya sudah habis ketika awal gajian karena ayahnya suka bermain judi dan mabuk-mabukan. Tak jarang juga ibunya menerima kekerasan dari ayahnya. Ibunya juga menerima perlakuan tidak menyenangkan dari bibinya (kakak dan adik perempuan ayahnya), ibunya dihina dan dikucilkan. Sebab pada saat itu keluarganya menumpang tinggal di rumah orangtua ayahnya. Kakek dari ayahnya sudah meninggal sehingga tinggal neneknya saja. Rumah neneknya saat itu terbuat dari gedek (istilah orang jawa, atau biasa disebut bambu) dan berlantai tanah. Ketika hujan datang, pastilah air akan masuk dari sela-sela bambu yang anyamannya longgar. Kehidupan mereka sangat miskin ketika itu. Neneknya menyambung hidup dengan berjualan kebutuhan makanan sehari-hari (ikan, sayur, dll). Ketika ibunya tidak memiliki uang untuk membeli belanja, maka terpaksa ibunya harus berhutang kepada neneknya.

Ketika menceritakan kisahnya dahulu, ibunya selalu tidak kuasa menahan air mata. Orangtua ibunya tidak tahan melihat penderitaan anaknya, sehingga mengusahakan tempat tinggal bagi keluarga mereka. Kakeknya memberikan rumah yang kecil dan berada dalam sebuah gang sempit yang mereka namai sebagai gang kelinci. Setelah pindah dan berpisah dengan keluarga bibi-bibinya, kehidupan keluarga kecil mereka berangsur-angsur membaik, ayahnya tidak lagi bermain judi dan mabuk-mabukan, rajin membantu pekerjaan ibunya sehari-hari serta tidak lagi suka memukul. Rumah kecil yang mereka tempati membuat mereka nyaman karena mereka suka menghiasi rumah mereka dengan bunga-bunga. Selain itu  tetangga-tetangga mereka adalah orang-orang yang cukup menyenangkan.

Setahun sebelum tahun kelahirannya, kakeknya (ayah ibunya) memberi mereka rumah tinggal yang lebih layak daripada sebelumnya, rumah yang lebih besar dan bagus, juga lebih dekat dengan rumah kakeknya. Jika kakeknya tidak memberikan mereka rumah itu, mungkin mereka tidak akan pernah memiliki rumah yang layak. Setahun kemudian lahirlah bayi perempuan yang mereka namai agustin. Walaupun kini ayahnya sudah mengalami kenaikan jabatan dan bukan lagi sebagai seorang penjaga gudang, namun tetap saja gaji ayahnya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sekolah keempat anaknya. Sehingga tetap saja ibunya harus gali lubang tutup lubang (mencari tempat berhutang) untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Untung saja, ibunya berpikiran jauh kedepan, sekolah adalah yang harus didahulukan, prinsip ibunya adalah mengusahakan anak-anaknya bersekolah setinggi mungkin, berbeda dengan ayahnya yang tidak mau tahu urusan pendidikan anaknya.

Anak terakhir yang terlahir itu menjadi kesayangan orangtuanya. Bayi perempuan itu tumbuh menjadi gadis kecil yang lucu dengan keistimewaannya. Rambutnya bagus, matanya indah, kulitnya bersih, pendiam, dan pintar. Setiap orang yang bertemu dengannya suka memuji rambutnya yang bagus, ikal dan hitam. Hanya saja keingintahuannya terkadang membuatnya dinilai nakal oleh orangtuanya, maklum saja dulu mungkin pengetahuan parenting tidak seperti saat ini, apalagi orangtuanya hanya lulusan SMP dan SD (Sekolah Teknik dan sekolah Rakyat). Dalam keluarganya, hanya ibunya saja yang peduli dan memikirkan kelangsungan hidup keluarganya. Ayahnya hanya menjalankan tugasnya untuk bekerja, tetapi tidak pernah peduli terhadap anak-anaknya. Gadis kecil itu pun tumbuh tanpa sosok ayahnya.

(bersambung)

Posted in Uncategorized

2 thoughts on “dengarkan kisahku… (1)

  1. banyak agustin2 lain di bumi Allah ini. dan 1 hal yang patut disyukuri Agustin adalah dia lebih beruntung dari agustin2 yang lain. Dan mungkin hal yang perlu diingat juga oleh agustin bahwa bisa jadi kesuksesan yang sekarang ini diraihnya adalah salah 1 ujian Allah yang bisa jadi lebih sulit daripada ujiannya dulu ketika hendak meraih cita2nya. karena banyak orang yang lulus ujian dalam kondisi kekurangan tetapi ketika diuji dalam kondisi yang serba berkecukupan justru dia lalai. tetap semangat saudaraku..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s