i’m not angry


Suatu hari, ketika saat liqo tiba…
Murobbi dan teman-teman liqo terkejut karena ada salah seorang peserta liqo bercerita dengan menggebu-gebu (tepatnya dengan emosi, sepertinya marah). Dia bercerita tentang sesuatu, seseorang, sebuah runtutan kejadian. Kejadian yang sangat menyinggung prinsipnya. Orang itu tidak lain adalah saya sendiri (karena tidak mungkin peserta liqo yang lain berani melakukan hal serupa, hahaha).
Semua yang hadir di majelis itu terdiam, mendengarkan dengan kening sedikit mengernyit, mungkin karena semakin lama mereka terhenyak dengan pernyataan-pernyataan yang selama ini hanya mereka dengar lewat ‘bisik-bisik tetangga’.
Tak berapa lama, setelah cerita hampir selesai, dan si pencerita sudah capek ‘mengomel’, muncullah berbagai reaksi dari peserta lainnya. Ada yang diam saja, ada yang niatnya menasehati saya tetapi dengan emosi yang sama. Kemudian murobbi pun akhirnya bereaksi (ini yang saya tunggu). Baru kali ini murobbi saya mengeluarkan pernyataan sikap (hehehe seperti demo) yang bertentangan dengan pernyataan sikap saya. Entah beliau menyembunyikan sesuatu atau memang itulah adanya.
Majelis hari itu diakhiri dengan sedikit suram karena adanya ‘shock therapy’ dari seorang peserta aneh, hahaha….

Hari-hari setelah kejadian itu…
Seseorang yang saya ceritakan tempo hari menjadi seseorang yang harus saya taati. Tibalah moment sebuah acara dimana pada acara tersebut berkumpullah banyak anggota dari organisasi yang saya ikuti. Kasihan beliau, karena setiap mengajak saya bicara, seakan-akan berbicara dengan sesuatu yang tak berwujud, tidak bisa mendengar dan berbicara (sepertinya sudah reflek untuk meng-ignore beliau).

Hari-hari setelah acara itu…
Beliau yang tidak saya sukai menghubungi saya untuk menyampaikan amanah. Saya diamanahi memegang kembali bagian saya dulu yang sempat vakum karena ditinggal para pengurusnya. Bisa dikatakan amanah yang berat dengan segudang targetnya (fiuhhh, hanya bisa berikhtiar dan tawakkal, merasa tidak pantas berada didalamnya, tapi kalau bukan saya siapa lagiii??? hiks, ada yang mau gantikan? ).

Hari-hari setelah itu…
Melihat semakin beratnya beban dakwah bersama, akhirnya lama-lama menjadi cuek dan easy going. Ya sudahlah, saya tidak perduli dengan apa yang dulu pernah kamu lakukan, yang penting sekarang bagaimana kita membawa kemajuan di organisasi kita. Dan selama saya tahu beliau berusaha jadi seseorang yang baik, tidak mengulangi hal-hal yang lalu, saya rasa bisa menerima.
Terbayang kembali ketika saya marah-marah di depan majelis liqo… jadi tertawa sendiri…hihihi…
Pertama menertawakan diri sendiri (ngapain cerita pake marah-marah coba??) dan yang kedua menertawakan semua yang hadir disitu karena pada shock, termasuk murobbi (hahaha, mungkin yang hadir pada berpikir hal yang sama : nih anak kesambet setan mana sih?).

Kekecewaan…
Sebuah kata yang sangat familiar dengan saya, mungkin begitupun dengan Anda. Kekecewaan adalah sebuah bentuk rasa yang muncul karena terjadinya sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan-harapan kita. Jika kita search untuk kata manajemen kekecewaan mungkin akan banyak sekali artikel yang muncul untuk menjelaskan hal tersebut.

Sampai saat ini saya sendiri sedang menghadapi situasi stagnan yang harus saya pecahkan (dan tentu saja menimbulkan kekecewaan, rasa kecewa saya timbul karena saya tidak berdaya untuk mengubah keadaan tersebut).

Tidak ada manusia yang sempurna. Tidak ada imam yang sempurna. Tidak ada pemimpin organisasi yang sempurna. Tidak ada sebuah organisasi yang sempurna.

Saya sendiri menanggapi kekecewaaan dengan beberapa sikap :
Jika kecewa terhadap seseorang
Saya cuma berkata pada diri sendiri “oalah memang orangnya sudah seperti itu, kalau sudah diingatkan tetep ndak berubah ya biarlah dia tanggung sendiri akibatnya”.
Jika kecewa terhadap organisasi
1. Saya akan tetap mengerjakan tugas dan bagian yang diamanahkan kepada saya, karena sejatinya pertanggungjawaban tugas-tugas didunia ini bukan kepada para pemberi amanah didunia, tetapi pertanggungjawabannya kepada Pencipta kita.
2. Sebisa mungkin melakukan tindakan positif dalam organisasi, walaupun tidak akan ngefek.
Just do your best
3. Tapi kalau sedang kumat anehnya mungkin hanya cabut dan mengasingkan diri alias jalan-jalan, yuuukkk…. ^_^

Marah, kecewa… tidak seharusnya membuat kita mundur dari ‘berebut’ untuk berbuat kebaikan…

And it’s good, i’m not angry…anymore

vocab :

liqo = majelis taklim yang beranggotakan peserta taklim dan pembimbing

murobbi = pembimbing majelis taklim

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s