Tags

, , ,


Pada surat At Taubah ayat 44-47, firman Allah menyebutkan tentang perilaku orang-orang munafik yang senantiasa memiliki keraguan di dalam hatinya. Sehingga mereka bimbang ketika ada perintah untuk berjihad/berperang di jalan Allah. Mereka senantiasa meminta ijin ketika ada perintah berperang dengan mencari-cari alasan. Rasul memang tidak mengetahui siapakah diantara umatnya yang benar-benar memiliki udzur untuk berangkat, dan siapa saja yang hanya mencari-cari alasan. Hanya Allah yang mengetahui apa yang sebenarnya ada dalam hati mereka. Karena itu, lantas manusia juga tidak berhak menebak-nebak dan menilai apa yang ada dalam hati seseorang (QS. At Taubah : 44-45). Karena keraguan mereka, maka Allah malah meneguhkan keraguan dalam hati mereka, sehingga mereka lebih mantap untuk tidak berangkat berjihad. Allah mengatakan kepada mereka ( bukan berkata dalam arti langsung berbicara dengan mereka ), “duduklah kamu bersama orang yang duduk-duduk”. (QS. At Taubah : 46). Mengapa Allah malah memantapkan hati mereka untuk tidak berangkat berjihad, padahal bantuan pasukan masih dibutuhkan? Kaum muslimin pada saat itu tidak semuanya merupakan orang-orang yang pandai sehingga mereka masih dapat untuk diperdaya dengan perkataan-perkataan atau manipulasi orang-orang munafik. Sehingga lebih baik orang-orang munafik tidak ikut dalam pasukan, sebab jika mereka ikut, hanya akan membuat kekacuan, menebarkan keresahan dan perpecahan di barisan kaum muslimin. (QS. At Taubah : 47). Ketika seseorang berpura-pura atau berniat menipu, sebenarnya dia menipu dirinya sendiri tanpa dia sadari. Dan pada kasus orang-orang munafik, mereka takut dicela sehingga suka ikut-ikutan saja.

Penjelasan tambahan (tidak berhubungan dengan penjelasan ayat): Menjauhi larangan Allah tidak menggunakan ukuran mampu atau tidak mampu, kuat atau tidak kuatnya seseorang untuk menjauhi larangan itu. Untuk menjauhi larangan Allah, semua manusia pasti mampu dan kuat, hanya tergantung pada apa yang diTuhankan. Perintah dan larangan adalah untuk mengetahui kadar keimanan seseorang. Sebagai contoh asal usul kiblat. Pada jaman Rasulullah, tidak semua orang masuk ke dalam agama islam dikarenakan memang mereka benar-benar yakin. Tetapi sebagian ada yang beriman dikarenakan adanya kesamaan-kesamaan ajaran atau tata cara beribadah dengan ajaran agama mereka sebelumnya. Salah satunya yaitu arah kiblat yang sama ke arah masjid Al Aqsa. Ketika turun perintah untuk mengubah arah kiblat, maka sekelompok orang ada yang membangkang dan tidak mau mengubah arah kiblat mereka.

Sebaliknya, dalam hal bertakwa atau untuk menjalankan perintah Allah didasarkan pada kemampuan masing-masing individu. Ada kisah tentang sahabat Rasulullah yang memasang tali penyangga pada masjid. Rasul kemudian bertanya tali tersebut dipergunakan untuk apa. Sahabat tersebut menjawab, bahwa dia ingin seperti Rasulullah yang sholat hingga kaki beliau bengkak, dan tali tersebut digunakan untuk menahan badannya ketika merasa mengantuk. Kemudian Rasul memerintahkan untuk mencopot tali penyangga tersebut. Atas dasar ini, keluarlah sebuah hadist yang menyebutkan bahwa jika seseorang itu mengantuk sekali dan ingin tidur, maka dianjurkan untuk tidur. Dari Aisyah, berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila kamu mengantuk ketika shalat, maka tidurlah terlebih dahulu sampai hilang rasa kantukmu. Karena bila kamu mengantuk dalam shalat, mungkin suatu ketika kamu bermaksud memohon ampunan kepada ALLAH, tetapi ternyata kamu justeru memaki-maki diri kamu sendiri (karena salah baca doa).” [HR. Muslim - Kitab Shalat Musafir dan Qashar]. Tetapi perlu ditekankan bahwa hadist tersebut berlaku untuk sholat malam, bukan berlaku untuk sholat wajib.  Pada kisah sahabat Rasul tersebut, menunjukkan dalam hal beribadah bisa jadi kemampuan masing-masing orang berbeda, dan hal tersebut merupakan pemakluman/sesuatu yang wajar.

Inspired by utsadz Abdul Majid, kajian tafsir senin @kantor